Diberdayakan oleh Blogger.

Seni Tradisional Indonesia

"Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata"Sebagai seorang pencinta seni dan sebagai seorang pemuda Indonesia, pantaslah kita untuk mengetahui dan mempelajari seluk-beluk dari seni tradisional indonesia. Walaupun hanya sebatas menyukai ataupun mempelajari, setidaknya kita telah berpartisipasi melestarikan seni tradisional Indonesia.

Seni tradisional Indonesia bisa dikatakan sebagai unsur kesenian yang menjadi bagian hidup masyarakat Indonesia dan biasanya terbagi dalam daerah/kelompok-kelompok/suku tertentu. Seni tradisional yang ada di suatu daerah berbeda dengan yang ada di daerah lain, meski pun tidak menutup kemungkinan adanya seni tradisional yang mirip antara dua daerah yang berdekatan.

Jenis seni tradisional diindonesia bermacam macam mulai dari alat tabuh, alat tiup, alat gesek, alat petik, seni tari dan permainan.
1.Seni Tradisional Alat Tabuh

Terdiridari 3 jenis, diantaranya Gamelan, Gendang dan Marwas.
Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok di Indonesia dalam berbagai jenis ukuran dan bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di Jawa lewat abad ke-18, istilah gong lebih dianggap sinonim dengan gamelan.Penalaan dan pembuatan orkes gamelan adalah suatu proses yang kompleks. Gamelan menggunakan empat cara penalaan, yaitu sléndro, pélog, “Degung” (khusus daerah Sunda, atau Jawa Barat), dan “madenda” (juga dikenal sebagai diatonis, sama seperti skala minor asli yang banyak dipakai di Eropa. Jenis-jenis Gamelan ada Gemelan,jawa,bali,sunda,Banyuwangi,banjar dll yang lainnya adalah Gendang dan marwas untuk keduanya saya belum mendapatkan data-datanya.

2.Seni Tradisional Alat Tiup 

Terdiri dari suling dan Serunai.
Flute atau seruling adalah instrumen musik dari keluarga woodwind. Suara flute berkarakter lembut dan dapat dikombinasikan dengan instrumen lainnya dengan baik. Flute modern untuk profesional umumnya terbuat dari perak, emas atau kombinasi keduanya. Sedangkan flute untuk student umumnya terbuat dari nikel-perak, atau logam yang dilapisi perak. Flute concert standar di-pitch di C dan mempunyai jangkauan nada 3 oktaf dimulai dari middle C. Akan tetapi, pada beberapa flute untuk profesional ada key tambahan untuk mencapai nada B di bawah middle C. Ini berarti flute merupakan salah satu instrumen orkestra yang tinggi, hanya piccolo yang lebih tinggi lagi dari flute. Piccolo adalah flute kecil yang di-pitch satu oktaf lebih tinggi dari flute concert standar. Piccolo juga umumnya digunakan dalam orkestra. Flute concert modern memiliki banyak pilihan. Thumb key B-flat (diciptakan dan dirintis oleh Briccialdi) standar. B foot joint, akan tetapi, adalah pilihan ekstra untuk model menengah ke atas dan profesional. Open-holed flute, juga biasa disebut French Flute (di mana beberapa key memiliki lubang di tengahnya sehingga pemain harus menutupnya dengan jarinya) umum pada pemain tingkat konser. Namun beberapa pemain flute (terutama student, dan bahkan beberapa pemain profesional) memilih closed-hole “plateau” key. Student umumnya menggunakan penutup sementara untuk menutup lubang tersebut sampai mereka berhasil menguasai penempatan jari yang sangat tepat. Beberapa orang mempercayai bahwa open-hole key mampu menghasilkan proyeksi suara yang lebih keras dan lebih jelas pada nada-nada rendah. Concert flute disebut juga Boehm flute, atau flute saja.
3. Seni Tradisional Alat Gesek

Rebab,(Arab: الرباب or رباب juga dilapalkan sebagai :rebap, rabab, rebeb, rababah, al-rababa ) adalah alat musik gesek yang biasanya menggunakan 2 atau 3 dawai, alat musik ini banyak di temukan di negara-negara
Islam. Alat musik yang menggunakan penggesek dan mempunyai tiga atau dua utas tali dari dawai logam (tembaga) ini badannya menggunakan kayu nangka dan berongga di bagian dalam ditutup dengan kulit lembu yang dikeringkan sebagai pengeras suara

4.Seni Tradisional Alat Petik

Siter dan celempung adalah alat musik petik di dalam gamelan Jawa. Ada hubungannya juga dengan kecapi di gamelan Sunda. Siter dan celempung masing-masing memiliki 11 dan 13 pasang senar, direntang kedua sisinya di antara kotak resonator. Ciri khasnya satu senar disetel nada pelog dan senar lainnya dengan nada slendro. Umumnya sitar memiliki panjang sekitar 30 cm dan dimasukkan dalam sebuah kotak ketika dimainkan, sedangkan celempung panjangnya kira-kira 90 cm dan memiliki empat kaki, serta disetel satu oktaf di bawah siter. Siter dan celempung dimainkan sebagai salah satu dari alat musik yang dimainkan bersama (panerusan), sebagai instrumen yang memainkan cengkok (pola melodik berdasarkan balungan). Baik siter maupun celempung dimainkan dengan kecepatan yang sama dengan gambang (temponya cepat). Nama “siter” berasal dari Bahasa Belanda “citer”, yang juga berhubungan dengan Bahasa Inggris “zither”. “Celempung” berkaitan dengan bentuk musikal Sunda celempungan. Senar siter dimainkan dengan ibu jari, sedangkan jari lain digunakan untuk menahan getaran ketika senar lain dipetik, ini biasanya merupakan ciri khas instrumen gamelan. Jari kedua tangan digunakan untuk menahan, dengan jari tangan kanan berada di bawah senar sedangkan jari tangan kiri berada di atas senar. Siter dan celempung dengan berbagai ukuran adalah instrumen khas Gamelan Siteran, meskipun juga dipakai dalam berbagai jenis gamelan lain.
5.SeniDrama Tradisional

Terdiri Dari Bangsawan, Ketoprak, Lenong, Ludruk, wayang, dan lain-lain.
Bangsawan adalaah kelas sosial tertinggi dalam masyarakat pra-modern. Dalam sistem feodal (di Eropa dan sebagainya), bangsawan sebagian besar adalah mereka yang memiliki tanah dari penguasa dan harus bertugas untuknya, terutama dinas militer.

Bangsawan segera menjadi kelas turun-temurun, terkadang dengan hak untuk memberikan gelar turun-temurun dan memiliki hak keuangan dan lainnya. Istilah buat bangsawan, darah biru adalah terjemahan dari frase Spanyol sangre azul, yang menggambarkan keluarga kerajaan Spanyol dan bangsawan tinggi lainnya yang menyatakan diri ‘murni’ keturunan Visigoth, bebas dari darah Moor atau Yahudi. Tidak ada hubungan antara frase itu dengan warna darah bangsawan yang sebenarnya; namun di masyarakat petani kuno Eropa semua kelas atas memiliki pembuluh balik di permukaan kulitnya sehingga kelihatan dan nampak kebiru-biruan dibandingkan kulit sekitarnya yang pucat kmerahan, karena kulit itu sendiri tak disamak. Sekarang, di sebagian besar negara, “status bangsawan” tak memiliki privilese resmi; kecuali di Britania Raya.

Ketoprak (bahasa Jawa kethoprak) adalah sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa. Dalam sebuah pentasan ketoprak, sandiwara yang diselingi dengan lagu-lagu Jawa, yang diiringi dengan gamelan disajikan. Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Banyak pula diambil cerita dari luar negeri. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata. Sebab nanti pertunjukkan bukan ketoprak lagi melainkan menjadi pertunjukan wayang orang. Beberapa tahun terakhir ini, muncul sebuah genre baru; Ketoprak Humor yang ditayangkan di stasiun televisi RCTI. Dalam pentasan jenis ini, banyak dimasukkan unsur humor.

Lenong adalah teater tradisional Betawi. Kesenian tradisional ini diiringi musik gambang kromong dengan alat-alat musik seperti gambang, kromong, gong, kendang, kempor, suling, dan kecrekan, serta alat musik unsur Tionghoa seperti tehyan, kongahyang, dan sukong. Lakon atau skenario lenong umumnya mengandung pesan moral, yaitu menolong yang lemah, membenci kerakusan dan perbuatan tercela. Bahasa yang digunakan dalam lenong adalah bahasa Melayu (atau kini bahasa Indonesia) dialek Betawi.

Lenong berkembang sejak akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Kesenian teatrikal tersebut mungkin merupakan adaptasi oleh masyarakat Betawi atas kesenian serupa seperti “komedi bangsawan” dan “teater stambul” yang sudah ada saat itu. Selain itu, Firman Muntaco, seniman Betawi, menyebutkan bahwa lenong berkembang dari proses teaterisasi musik gambang kromong dan sebagai tontonan sudah dikenal sejak tahun 1920-an. Lakon-lakon lenong berkembang dari lawakan-lawakan tanpa plot cerita yang dirangkai-rangkai hingga menjadi pertunjukan semalam suntuk dengan lakon panjang dan utuh. Pada mulanya kesenian ini dipertunjukkan dengan mengamen dari kampung ke kampung. Pertunjukan diadakan di udara terbuka tanpa panggung. Ketika pertunjukan berlangsung, salah seorang aktor atau aktris mengitari penonton sambil meminta sumbangan secara sukarela. Selanjutnya, lenong mulai dipertunjukkan atas permintaan pelanggan dalam acara-acara di panggung hajatan seperti resepsi pernikahan. Baru di awal kemerdekaan, teater rakyat ini murni menjadi tontonan panggung.

Setelah sempat mengalami masa sulit, pada tahun 1970-an kesenian lenong yang dimodifikasi mulai dipertunjukkan secara rutin di panggung Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Selain menggunakan unsur teater modern dalam plot dan tata panggungnya, lenong yang direvitalisasi tersebut menjadi berdurasi dua atau tiga jam dan tidak lagi semalam suntuk. Selanjutnya, lenong juga menjadi populer lewat pertunjukan melalui televisi, yaitu yang ditayangkan oleh Televisi Republik Indonesia mulai tahun 1970-an. Beberapa seniman lenong yang menjadi terkenal sejak saat itu misalnya adalah Bokir, Nasir, Siti, dan Anen.
Jenis lenong

Terdapat dua jenis lenong yaitu lenong denes dan lenong preman. Dalam lenong denes (dari kata denes dalam dialek Betawi yang berarti “dinas” atau “resmi”), aktor dan aktrisnya umumnya mengenakan busana formal dan kisahnya ber-seting kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan, sedangkan dalam lenong preman busana yang dikenakan tidak ditentukan oleh sutradara dan umumnya berkisah tentang kehidupan sehari-hari. Selain itu, kedua jenis lenong ini juga dibedakan dari bahasa yang digunakan; lenong denes umumnya menggunakan bahasa yang halus (bahasa Melayu tinggi), sedangkan lenong preman menggunakan bahasa percakapan sehari-hari.

Kisah yang dilakonkan dalam lenong preman misalnya adalah kisah rakyat yang ditindas oleh tuan tanah dengan pemungutan pajak dan munculnya tokoh pendekar taat beribadah yang membela rakyat dan melawan si tuan tanah jahat. Sementara itu, contoh kisah lenong denes adalah kisah-kisah 1001 malam.Pada perkembangannya, lenong preman lebih populer dan berkembang dibandingkan lenong denes.
Ludruk adalah kesenian drama tradisional dari Jawa Timur. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik. Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa, menggunakan bahasa khas Surabaya, meski terkadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang, Malang, Madura, Madiun dengan logat yang berbeda. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk, membuat dia mudah diserap oleh kalangan non intelek (tukang becak, peronda, sopir angkotan,). Sebuah pementasan ludruk biasa dimulai dengan Tari Remo dan diselingi dengan pementasan seorang tokoh yang memerakan “Pak Sakera“, seorang jagoan Madura. Kartolo adalah seorang pelawak ludruk legendaris asal Surabaya, Jawa Timur. Beliau sudah lebih dari 40 tahun hidup dalam dunia seni ludruk. Nama Kartolo dan suaranya yang khas, dengan banyolan yang lugu dan cerdas, dikenal hampir di seluruh Jawa Timur, bahkan hingga Jawa Tengah. Ludruk berbeda dengan ketoprak dari Jawa Tengah. Cerita ketoprak sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah maupun dongeng), dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. Sementara ludruk menceritakan cerita hidup sehari-hari (biasanya) kalangan wong cilik.

6.Seni tradisional dalam Bentuk Permainan terdiri dari Gasing,Karapan sapi,patok Lele,Pencak Silat,Sepak Takraw
Gasing adalah mainan yang bisa berputar pada poros dan berkesetimbangan pada suatu titik. Gasing merupakan mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali. Selain merupakan mainan anak-anak dan orang dewasa, gasing juga digunakan untuk berjudi dan ramalan nasib. Sebagian besar gasing dibuat dari kayu, walaupun sering dibuat dari plastik, atau bahan-bahan lain. Kayu diukir dan dibentuk hingga menjadi bagian badan gasing. Tali gasing umumnya dibuat dari nilon, sedangkan tali gasing tradisional dibuat dari kulit pohon. Panjang tali gasing berbeda-beda bergantung pada panjang lengan orang yang memainkan. Gerakan gasing berdasarkan efek giroskopik. Gasing biasanya berputar terhuyung-huyung untuk beberapa saat hingga interaksi bagian kaki (paksi) dengan permukaan tanah membuatnya tegak. Setelah gasing berputar tegak untuk sementara waktu, momentum sudut dan efek giroskopik berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya bagian badan terjatuh secara kasar ke permukaan tanah.
Karapan sapi merupakan istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur. Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh sampai lima belas detik. Beberapa kota di Madura menyelenggarakan karapan sapi pada bulan Agustus dan September setiap tahun, dengan pertandingan final pada akhir September atau Oktober di kota Pamekasan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden. Kerapan sapi didahului dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi gamelan Madura yang dinamakan saronen. Babak pertama adalah penentuan kelompok menang dan kelompok kalah. Babak kedua adalah penentuan juara kelompok kalah, sedang babak ketiga adalah penentuan juara kelompok menang. Piala Bergilir Presiden hanya diberikan pada juara kelompok menang.

Pencak Silat atau Silat (berkelahi dengan menggunakan teknik pertahanan diri) ialah seni bela diri Asia yang berakar dari budaya Melayu. Seni bela diri ini secara luas dikenal di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura tapi bisa pula ditemukan dalam berbagai variasi di berbagai negara sesuai dengan penyebaran suku Melayu, seperti di Filipina Selatan dan Thailand Selatan. Berkat peranan para pelatih asal Indonesia, saat ini Vietnam juga telah memiliki pesilat-pesilat yang tangguh. Induk organisasi pencak silat di Indonesia adalah IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia). Persilat (Persekutuan Pencak Silat Antara Bangsa), adalah nama organisasi yang dibentuk oleh Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam untuk mewadahi federasi-federasi pencak silat di berbagai negara.

"Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata"
 
Sumber Referensi : Wikipedia Indonesia,Buku Seni Indonesia,

Terdapat 18 komentar:

Rawins at: 9 Agustus 2010 04.02 mengatakan...

seni budaya kita memang beraneka ragam. sayang perhatian pemerintah cuma setengah setengah. tak usah heran bila satu persatu mulai menuju ke ambang kepunahan. tragis memang...

Neng Rara at: 9 Agustus 2010 04.38 mengatakan...

assalamualaikum..
saya suka seni kecapi suling sunda, apalagi lagu-lagu lawasnya. enak sekali jika didengarkan malam-malem menjelang tidur...
ayo lestarikan budaya tradisional kita,agar tidak punah tentunya.
salam

OeMpaK at: 9 Agustus 2010 04.45 mengatakan...

memang banyak seni kebudayaan di kita, tp jarang skali yg perhatian sama hal tersebut, bahkan tidak dilestarikan sampai akhirnya diclaim sama negara lain seperti kjadian dulu, mudah"an banyak pemuda Indonesia yg mau melestarikannya

tomo at: 9 Agustus 2010 05.04 mengatakan...

Wah hebat sekali kontenmu kawand hebat salut dech.
Memang kebudayaan tradisional ini telah banyak terlupakan menurutku kawand.

Bagaimana tidak, sehari-hari saja sangat jarang kita lihat budaya tradisional kita lihat secara umum.
Halah misal saja yang paling mudah adalah cara berpakaian dan tingkah laku kita.
Kita berpakaian saja serasa malu jika menggunakan pakaian adat alias kikuk kawand.

Aku harap postingan ini bermanfaat bagi kita semua dan generasi penerus kawand.
Suwun.

Pakde Sulas at: 9 Agustus 2010 05.13 mengatakan...

pakde ini karena dari kecil sampek tuwek begini hidup disurabaya sangat kehilangan dengan kesenian ludruk, untuk pengobat rindu pakde sering putar ludruk kartolo cs yang direkam tahun 198-an

Sukadi Brotoadmojo at: 9 Agustus 2010 05.42 mengatakan...

komplit referensinya.... seni tradisional sekarang sudah mulai terpinggirkan, semoga seni budaya indonesia tidak hilang ditelan jaman...

"om rame" at: 9 Agustus 2010 10.31 mengatakan...

semoga keanekaragaman budaya ini di imbangi dengan peLestariannya dan kian hari tergeser oLeh moderinasasi. terima kasih sobat, yang teLah turut mengeksiskan keragaman budaya indonesia.

ariefborneo at: 9 Agustus 2010 15.58 mengatakan...

Kren artikel nya sob...mari kita
lestarikan kebudayaan di negri
ini...met pagi sob semog hari ini
menyenangkan

tomo at: 9 Agustus 2010 18.20 mengatakan...

Pagi juga kang..
Kesenian tradisional makin lama makin punah saja kayaknya ya.
Semua orang generasi penerus tidak menyukai yang tradisional ini, inginnya mengikuti budaya barat, paraah..

Rasa hati jadi pedih ketika mendengar berita di tv bahwa gamelan merupakan mata pelajaran di negara barat.
Tapi yang empunya Indonesia malah cuek bebek begitu saja terhadap pelajaran gamelan ini.

Akankah budaya tradisional akan berpindah ke negara barat kawand...
Oh tidaak..

Vivieck at: 9 Agustus 2010 20.11 mengatakan...

terimakasih atas komentar dan dukngannya, untuk sahabat saya mas Tomo, saya memahami kekhawatiran anda. saya hanya bisa berharap, masyarakat indonesia dan pemerintah indonesia mau memperhatikan masalah ini dan bisa melihat peluang yg baik dari seni tradisional kita. Contoh nya saja Pulau Dewata Bali. Seni tradisional Bali tumbuh dan berkembang dengan baik disana. Bahkan seorang gitaris dan musisi Jazz "Balawan", menawarkan permainan mudik yg bernuansa bali. Dan perlu diketehui bahwa Balawan sangat terkenal di kalangan musisi karena membawa seni tradisional bali ke dalam permainan musiknya.

friendblogger at: 9 Agustus 2010 20.31 mengatakan...

Indonesia memang kaya akan seni budaya

yanuar catur rastafara at: 10 Agustus 2010 01.07 mengatakan...

nah, yang kayak gini nih yang aku demenin
keren-keren boss...
Go Indonesia...

Moedzt at: 10 Agustus 2010 01.32 mengatakan...

lestarikan budaya indonesia ... merdeka...

Aby at: 10 Agustus 2010 03.55 mengatakan...

indonesia emank kaya ya, dengan seni budayanya

four dreams at: 11 Agustus 2010 20.46 mengatakan...

mantep emang sob kebudayaan indonesia. aku bangga menjadi anak indonesia :)
selamat menjalankan puasa ya sob :D

septian angga at: 11 Agustus 2010 22.08 mengatakan...

sekarang tugas kita generasi muda untuk mengangkat kesenian Indonesia :D

Boy DeLanov at: 12 Agustus 2010 03.39 mengatakan...

Lanjutkan gan....!!!
:: Nice info ::
:D

Ardian Bumi at: 12 Agustus 2010 21.50 mengatakan...

Untuk saat ini saya rasa pemerintah juga harus ikut campur tangan dalam hal ini...Jgan ampe diakui semua ama negri tetangga.

Posting Komentar

Yang Mau Lempar Kacang Silahkan, Gratis kox,
Tapi siap-siap aja malam ini aku gentayangin,
wkwkwkwkwkwk

Ayukng